Muba Ramadhan 2022

Petani Keluhkan Harga Tandan Buah Segar Sawit Anjlok

70

MUBA, Liputansumatera.com- Perekonomian petani sawit di Sungai Lilin dan sekitarnya kembali terpuruk, menyusul terus turunnya harga Tandan Buah Segar (TBS) sawit. 

Akibatnya, beberapa petani sawit di daerah tersebut mengeluh, ditambah lagi adanya isu pupuk subsidi akan di hapus, dan dialihkan untuk tanaman Pangan dan Hotikultura. 

Ahmad (67), petani sawit di Kecamatan Sungai Lilin saat di konfirmasi mengaku, dirinya telah menebang hampir dua hektar kebun sawitnya dan menggantinya menjadi areal tanaman sayur-sayuran.

Penebangan pohon kelapa sawit tersebut dilakukan menyusul terus merosotnya harga TBS, khususnya di wilayah Kecamatan Sungai Lilin.

“Hasil panen sawit kami sudah tak mampu lagi menutupi kebutuhan keluarga, karena harga TBS di tingkat petani di desa kami beberapa bulan terakhir rata-rata Rp 1.000/kg. Rendahnya harga TBS sawit tersebut membuat kami rugi, Hasil panen sawit tak mampu lagi menutupi biaya pembelian pupuk, transportasi dan upah panen. Karena itu saya sudah menebang kebun sawit dua hektar, saya beralih menanam sayur-sayuran dan semangka dan beberapa sayuran lainnya,” jelasnya. 

Jumiran warga yang sama menambahkan, hasil panen pertanian sayur-sayuran yang digelutinya hingga kini lebih menguntungkan.

Berbagai jenis sayuran yang ditanam, bisa panen dua bulan. Hasil panennya pun mudah dijual ke kota atau kepasar terdekat dengan harga yang cukup mahal.

Ditambahkanya, sebagian petani sawit di Sungai Lilin dan Tungkal Ilir juga sudah mengganti kebun sawit menjadi tanaman singkong atau ubi kayu. Petani beralih menanam singkong karena pemasarannya mudah.

“Kami juga prihatin melihat nasib petani, menyusul terus merosotnya harga TBS sawit, namun minyak goreng masih melonjak tinggi,” katanya. (Soe)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.