Muba HUT RI

Ternak Puyuh, Peluang Menjanjikan di Era Pandemi Covid-19

214

BANYUASIN, Liputansumatera.com – Pandemi Covid-19 terkadang membuat orang makin kreatif untuk bisa bangkit dari keterpurukan ekonomi, berbagai kreativitas dan ketekunan dengan membuka peluang usaha terus dilakukan masyarakat.

Tak terkecuali dengan Noer Wahidin, salah seorang warga Desa Karang Mulia Kecamatan Tungkal Ilir Kabupaten Banyuasin. Dirinya mencoba kreativitas belajar beternak burung puyuh yang dimulai sekira empat bulan yang lalu.

Menurut Noer yang asli putra Pangeyongan “Ngapak” Jawa Tengah ini menjelaskan, Budi daya burung puyuh dapat dijadikan sebagai sumber pendapatan atau pekerjaan baru di tengah kesulitan yang dihadapi pada masa pandemi Covid-19 saat ini. Burung puyuh memiliki beberapa kelebihan yang dapat diandalkan sebagai media untuk belajar beternak dan juga sebagai sarana untuk memulai suatu usaha. Selain telur, daging burung puyuh juga sudah banyak diminati oleh masyarakat sebagai bahan makanan.

Noer Wahidin mengaku, usaha ini mulai dirintis dengan membeli bibit unggas jenis puyuh dari saran rekannya saat pulang berlibur di daerah Provinsi Lampung akhir tahun 2020 lalu.

Setelah empat bulan sepulang dari Lampung, dirinya berusaha membawa bibit unggas itu sebanyak 60 ekor. Sebelum pembelian bibit tersebut, dirinya berusaha mempelajari bagaimana budidaya unggas jenis puyuh itu dapat menghasilkan dengan modal awal 60 ekor. 

Dirinya memulai dengan pembuatan kandang, jenis pakan dan cara perawatan sesuai ilmu yang dipelajarinya termasuk mendapatkan bibit serta cara penangkaran telur yang baik. “Alhamdulillah dari 60 ekor puyuh yang dipeliharanya pada 50-60 hari sudah mulai bertelur,” Jelasnya, (26/4/2021)

Melihat prospek yang baik tersebut, Noer mulai memgembangkan usahanya dan hingga awal April 2021 lalu usahanya sudah mampu memiliki burung puyuh sebanyak 1000 ekor dan siap bertelur.

“Jadi siki Inyong ora susah maning zamane lagi ana covid gon golet pangan ko. (jadi saat ini saya tidak susah lagi dimasa covid mencari makan-red),” Imbuhnya.

Pada pertengahan bulan ini unggas miliknya sudah pasti setiap hari rutin bertelur rata-rata berkisar 450 ekor perhari. Hal itu terlihat dari jumlah telur yang dihasilkan.

“Untuk saat ini dalam satu hari sudah mampu menjual telur puyuhnya rata-rata 4-5 kilo sehari. Dalam satu kilonya ada sebanyak 80-90 butir dengan harga ditempat Rp 35 ribu,” tambah Noer.

Untuk pemasaran hingga saat ini masih lumayan baik, karena didesanya baru ada tiga orang yang usaha budidaya unggas ini dan rata-rata masih punya penghasilan yang sama.

Lebih lanjut Noer mengatakan, dirinya sudah mengembangkan usahanya dengan membuat penangkaran sendiri, pada akhir pekan ini saja ada 1.200 telur siap ditetaskan. Upaya dari penangkaran sebelumnya sudah ada yang siap dipasarkan, untuk usia satu  hari seharga Rp 5.000 perekor, sedangkan untuk usia 12 hari perekornya Rp 8.000.

Tertariknya, budidaya unggas jenis burung Gemak (puyuh-red) ini kata bapak yang punya sapaan sehari-hari Pak Sakrim, jika unggas ini dirawat dengan baik dapat produktif selama 18 bulan bahkan sampai usia 2 tahun. Jika unggas induknya itu sudah dianggap tak lagi produktif pun bisa dijual seekornya seharga Rp 2.500 hingga Rp 3.000 dan pemasarannya pun tidak susah.

“Bukan hanya itu, kotoran unggas itu ternyata sangat bagus untuk budidaya sayuran. Bahkan pemkab Banyuasin yang saat ini sedang menggalakkan menanam sayur, pupuknya tidak perlu beli yang mahal-mahal, cukup dari kotoran unggas ini,” Pungkasnya. (nov)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.